Sabtu, 22 Februari 2020

Waosan Babad Galuh - Kisah Rakeyan Pamanah Rasa / Prabu Jayadewata (Prabu Siliwangi)


KELAHIRAN DI TEGAL SILIARUM

Pengantar
Dalam bab-bab sebelumnya dikisahkan mengenai Prabu Mundingkawati ayah dari Prabu Jayadewata (Prabu Siliwangi) yang gemar berburu kijang. Dikisahkan sang raja melakukannya secara berlebihan, hal mana telah meresahkan kijang-kijang siluman yang kemudian melakukan serangan balik kepada sang raja beserta rakyatnya. Tak ada yang mampu mengalahkan kijang-kijang siluman tersebut sehingga akhirnya sang raja melarikan diri ke gunung Tarogong yang terletak di kaki Gunung Guntur di arah barat laut kota Garut sekarang.

Prabu Mundingkawati Mengungsi (Pupuh XLI.10 – XLI.18)
Menghadapi serangan kidang menjangan yang bertubi-tubi ini, raja Mundhing-kawati bersama sanak keluarga, isteri dan para pengikutnya pergi mengungsi. Habis semuanya menyingkir ke segala penjuru, mereka keluar dari kutha Pajajaran. Mereka pergi berduyun-duyun dengan tergesa-gesa semua melarikan diri dengan caranya masing-masing. Gunung Tarogong lah yang menjadi tujuan, tepatnya ke arah utaranya ke Tegal Uwar ayu. Maksudnya akan pergi bersembunyi untuk menghindar, disitulah tempatnya pandhe siluman, yang awalnya bernama Pagongan alimun. Dahulu gunung itu termashur dengan nama Gunung Antragangsa. Itulah gunung yang dituju untuk mengungsi oleh sang Prabu bersama isteri dan para selirnya yang ikut serta. Dengan tergesa-gesa mereka pergi berduyun-duyun ke tempat itu, yang tertinggal sudah tidak diperdulikan lagi.
Pada waktu itu permaisuri raja sang Dewi Terusgandarasa sedang hamil sembilan bulan, sang Permaisuri berjalan dengan perlahan-lahan seperti layaknya yang sedang hamil tua. Dalam perjalanan mereka melalui Tegal Sili yang harum baunya, disitu sang putri dikejutkan oleh Kijang Langgon, dan Menjangan Gumalunggung.

Kelahiran Siliwangi (Pupuh XLI.18 – XLI.27)
Adapun Prabu Mundhingkawati kepergiannya seperti diburu oleh musuh. Tidak ingat anak isteri, mereka berlarian menyelamatkan dirinya masing-masing, sehingga sang puteri yang sedang hamil pun melahirkan bayinya di Tetegal Sili yang baunya wangi. Sang bayi tidak terasa keluar karena terburu-buru mengikuti suaminya lari untuk berlindung di gunung Antragangsa.
            Prabu Mundhingkawati berseru,“He Gunung Tarogong, tolonglah kami yang sedang prihatin ini yang tengah diburu oleh Kidang sakti dan Menjangan racun. Semula kidang-kidang itu banyak yang kami buru, adapun sekarang kami ini yang diburu oleh mereka. Kami diamuki, sedangkan mentri - mentri kami tidak ada yang mampu menghadapinya. Prajurit kami banyak yang mati, ditendangi atau digigit. Orang Pakuan semua bubar ke sini dengan maksud akan menghindar, cepat tolonglah kami”. Dimintai pertolongan dengan beramai-ramai seperti itu gunung Sanghyang Gunung Tarogong kemudian terbuka, dan terlihat di dalamnya ada alam lain di perut gunung.
Maka kemudian Mundhingkawati beserta rombongannya masuk ke dalamnya, ke alam yang berada di dalam perut gunung. Sesudah masuk semua kemudian gunung itu menutup kembali seperti semula. Hal ini merupakan meradnya Prabu Mundhingkawati ke Gunung Tarogong. Mereka tidak akan keluar lagi selamanya, dan Kidang dan Menjangan itu pun tidak bisa menggangu sang Prabu lagi. Dikisahkan Dewi Trusgandarasa terkejut ketika dia sadar bahwa perutnya sudah kosong, perasaannya akan melahirkan namun dia tidak merasa hamil lagi karena lupa waktu lari tadi.
Permaisuri menangis dengan sangat sedihnya, “Anakku dimanakah kau berada, dimana gerangan jatuhnya, siapa yang bisa menemukan bayi kami yang tertinggal itu?”. Prabu Mundhingkawati menghibur dengan lembut kepada sang permaisuri yang tengah berduka, “Perihal anak kita yang tertinggal itu, tentunya dialah yang akan meneruskan peninggalan kita”.

Kisah Bayi Siliwangi Yang Tertinggal Di Tegal Siliarum (pupuh XLII.01 – XLII.07)
Dikisahkan sekarang mengenai sang bayi yang tertinggal di Tegal Siliarum. Bayi itu ternyata telah diketemukan oleh seekor induk harimau. Sang harimau menjilati pepelem sang bayi itu seperti halnya memandikannya, ari-arinya yang tertinggal digigitnya hingga putus danpuput. Tindakannya sama seperti halnya induk kucing yang tengah membersihkan anaknya. Sang bayi meronta-ronta, dan tidak lama kemudian induk harimau itu pergi meninggalkannya.
Lalu ada seorang pencari kayu bernama Kakek Borit yang melihat ada bayi tergolek menangis di tengah hutan maka dia pun merasa belas kasihan dan segera mengambilnya. Bayi itu dibawanya pulang dan diberi nama Siliwangi, karena asalnya diketemukan di Tegal Siliarum, di pinggir hutan di gunung. Bayi Siliwangi kemudian dibesarkan di tengah keluarga pencari kayu itu. Begitulah sebagai anak Kakek Borit, Siliwangi seperti halnya anak pemungut kayu penampilannya kumuh, dan badannya kotor. Dengan keadaan seperti itu waktu kanak-kanak, tidak terlihat petunjuk bahwa dia adalah anak seorang raja. Siliwangi tumbuh sebagai anak kecil dari gunung yang kotor dan tidak pernah mandi, dengan rambut yang "gimbal " tidak terurus.

Note:
Nyi Rara Sigir, atau Nyai Ambetkasih putri dari Gedeng Sindangkasih, Cirebon.

Padjadjaran Sepeninggal Prabu Mundingkawati (Pupuh XLII.07 – XLII.24)

Tidak diceriterakan perjalanan hidup si kecil Siliwangi, dikisahkan Kidang jejadian mengetahui hilangnya sang Prabu dan mereka pun menjadi marah dengan mengobrak-abrik Pajajaran. Para menak dan kuwu hilang melarikan diri dikejar ketakutan sehingga tidak ada lagi yang mau tinggal di kota. Pemukiman ditinggal pergi hingga keadaannya kosong dan sekarang diisi Kidang dan Menjangan yang bergerombol hilir mudik siang dan malam. Keangkuhannya bagaikan tentara yang telah memenangkan peperangan dan dia yang sekarang menjadi penguasanya. Disitulah awalnya tempat tinggal para menak dan kuwu menjadi seperti kena tulah, mereka takut untuk menyerang karena takut diamuk. Dalam ketakutan mereka semua minggir ke tempat yang jauh-jauh.
Kidang Panawungan dan Menjangan Gumalunggung terus melampiaskan amarahnya mengamuk ke arah barat, menyerang Pakuan Parahyangan. Tempatnya Prabu Sepuh Ciungwanara digempur habis-habisan. Menak Parahiyangan pun menghilang, mereka pergi mengungsi menghindar ke gua-gua dan ke gunung-gunung yang jauh. Tidak ada yang bisa bertindak, semua pergi melarikan diri. Prabu Ciungwanara mengungsi ke tempat sunyi di pertapaannya Ajar Ujung Banaliwung. Di situ dia dilindungi oleh Ki Ajar. Prabu Ciungwanara sudah mengerti bahwa anak cucunya sudah bercerai berai berlarian menyelamatkan diri dari kerusuhan, keadaannya kacau mereka sudah tidak menghiraukan lagi yang membuat keributan. Mereka semua berlarian tidak memikirkan lagi kedudukan. Negara sudah porak poranda dikalahkan oleh Kidang jejadian dan ditempati oleh Kidang menjangan inton-inton.
Dalam keangkuhannya mereka mengusir raja, membalas dendam karena diburu oleh Mundhingkawati. Yang semula memburu sekarang berganti diburu. Kidang Panawungan beserta pengikutnya menguasai di Pakuan Barat yaitu Parahiyangan. Malahan mereka sudah mempunyai anak bernama Kidang Pananjung yang kemudian berubah menjadi manusia. Adapun Manjangan Gumlunggung dengan pengikutnya menguasai wilayah Pajajaran, para kuwu Pakuan sebelah timur. Sedangkan daerah Pajajaran sebelah tenggara sudah dikuasai oleh Kidang Sampati, sebelah baratnya oleh Kidang Panawung, dan sebelah timurnya oleh Manjangan Kumlingking yang sudah menurunkan anak bernama Manjangan Gumaringsing yang berupa manusia.
            Asal muasalnya mengapa waktu itu Kidang Manjangan tertarik berhubungan dengan manusia sebab dimulai pada waktu dahulu oleh Linggahiyang. Sama halnya dengan Kidang Panawungan, akhirnya menjadi manusia. Bilamana manjangan yang di Galunggung suka kepada manusia, maka monyet Cogowang ya sama juga, mereka suka kepada manusia sebab asal-usulnya dari Lutung Kasarung dahulu. Itulah asal muasalnya seperti begitu. Bilamana dikisahkan bahwa pada waktu itu ada penduduk yang berkerabat dengan raja hewan, memang sesungguhnya ada, hal ya menyimpang selamanya.

Siliwangi diambil Nyi Rara Sigir (Pupuh XLII.24 – XLIII.04)
Siliwangi masih kecil dan masih menjadi anak penggembala. Jelek dan kotor, anak kecil yang tidak mengetahui adat istiadat. Tidak lama kemudian dia memperoleh kebahagiaan. Puteri dari "Menak"  Sindangkasih yang bernama Nyi Rara Sigir tertarik untuk mengambil si kecil Siliwangi. Anak itu diurus serta dimandikannya sehingga muncul cahaya kebesarannya. Sekarang tampak tanda-tanda bahwa dia adalah keturunan dari bangsawan besar. Gilang-gemilang bersinar cahayanya, memancar keluar sehingga sang Ayu Rara Sigir jatuh cinta kepadanya dan menginginkannya untuk menjadi jodohnya. “Jadikanlah Jaka Siliwangi ini menjadi jodohku, semoga tercapai keinginan hatiku”, begitulah permintaannya.
            Dikisahkan kemudian, pada waktu itu terjadi malapetaka. Ciptaannya Dalem Palimanan bermaksud akan menculik Putri Rara Sigir. Raksesa itu datang menyambar sang putri, namun sang putri Sigir dapat mengelak dan segera ditolong oleh Siliwangi. Dua raksesa itu dilawannya, ditendang hingga raksesa itu jatuh terguling-guling. Ketika itu semua orang di Sindangkasih menyaksikan akan kesaktian Siliwangi. Mereka menduga bahwa anak itu pastinya bukan anak sembarangan, dia telah mampu mengusir kedua raksesa itu. Dengan kejadian itu orang Sindangkasih mulai melihat Siliwangi sebagai seseorang yang tidak bisa diremehkan.


Prabu Siliwangi Mengusir Kidang Jejadian (Pupuh XLIII.04) – XLIII.12)
Setelah sekian lamanya, timbul keinginan Siliwangi untuk mengusir para menjangan jejadian, hal mana dicegah oleh Rara Sigir. “Jangan lakukan itu, aku khawatir kamu tidak akan mampu melawannya karena kesaktian mereka itu tidak tertandingi. Mereka telah mampu mengalahkan Prabu Mundingkawati”. Pemuda Siliwangi menjawab, “Mati dalam membela negara adalah permata bagi seorang laki-laki. Mencari apa lagi, bukankah dengan perbuatan itu surga indah akan diperolehnya kelak”.
Tidak dapat dihalangi lagi, kemudian Siliwangi berangkat. Tanpa membawa pengiring dan hanya dengan membawa panah dan busurnya dia pergi menantang bahaya yang menantinya. Kyan Manjangan Gumulung sudah bersiap-siap menghadapi kehebatan manusia yang datang itu. Siliwangi diterjangnya namun lolos seperti menerjang bayangan saja. Kemudian serangan Manjangan Gumalunggung itu dibalasnya, anak-anak panahnya dilepaskan dan kemudian diamuk dengan pemukul, hingga akhirnya rusa itu pun rebah dan mati. Kemudian anaknya, yaitu Manjangan Gumaringsing, datang membela dengan bala tentaranya. Namun Manjangan Gumaringsing segera disambut oleh senjatanya Siliwangi. Senjata itu mengenainya dan dia terbawa terbang, dan ketika jatuh dia berubah menjadi manusia. Kemudian Manjangan Gumaringsing segera datang menyerahkan diri dengan memberikan hormatnya kepada Siliwangi.
Betapa kagumnya para menak dan kuwu yang menyaksikan kesaktiannya junjungannya. Selama sebelas tahun kota-kota telah kosong dan baru sekarang ada Jaka Siliwangi yang mampu merebut lagi puri, dan lebih dari itu Manjangan Gumaringsing telah menyerahkan diri dan berbakti kepadanya. Dia diampuni dan diberi daerah kekuasaan di Gunung Galunggung tempatnya.

Jaka Siliwangi Membebaskan Parahiyangan (Pupuh XLIII.13 – XLIII.22)
Kemudian Jaka Siliwangi pergi ke arah barat, menuju Parahiyangan. Kidang Panawungan waktu melihat berkelebatnya kedatangan manusia segera dia memburunya dan Jaka Siliwangi pun kemudian dihadapinya. Namun dengan mudah Kidang itu disabet dan dipanah oleh Siliwangi hingga Kidang Panawungan pun mati. Kemudian sang anak, Kidang Pananjung, datang hendak membela ayahandanya. Dia menghadapi Siliwangi namun diapun segera terkena oleh panahnya Siliwangi. Kidang Pananjung jatuh dan berubah menjadi manusia. Kemudian dia datang menyembah kehadapan Siliwangi. Itulah awalnya bagaimana menak-menak Parahiyangan bisa kembali lagi ketempatnya dan berkedudukan lagi seperti waktu dahulu. Sebelas tahun lamanya mereka mengungsi dan sekarang bisa dipulihkan kembali oleh Jaka Siliwangi. Kidang Pananjung kemudian diampuni dan diberi daerah di Panawungan.
Pulih sudah keamanan di Bumi Pajajaran, Siliwangi mulai menghimpun pemerintahan di Pajajaran yang kelak bakal diperintahnya sebagai raja yang kuat. Tidak antara lama Prabu Sepuh Ciungwanara pergi ke Ujungbana. Dia sangat berterimakasih atas pertolongan jejaka perwira muda yang sakti ini, yang telah merebut kemuliaan yang sangat besar, dia akan menjadi penerus raja Pajajaran. Tidak lama kemudian datang Sanghyang Parwatali, Sanghyang Talibarat, Gelap Nyawang dan para saudaranya yang lain memberitahukan bahwasanya pemuda itu adalah anaknya Mundingkawati yang dilahirkan di tegal padang Siliarum. Ketika diburu oleh Kidang Manjangan, waktu itu sudah waktunya sang bayi lahir hingga dilahirkan di perjalanan. Sang bayi jatuh tertinggal di Tegal Siliwangi. Adapun kedua orang tuanya masuk ke gunung meninggalkan bayi itu. Sang bayi dibersihkan oleh seekor induk harimau, kemudian ditemukan oleh Ki Borih dimana dia memperoleh kekebalan dan kesaktian.
Rakeyan Jayadewata (Prabu Siliwangi) Dinobatkan Menjadi Prabu / Radja di Padjadjaran (Pupuh XLIII.23 – XLIV.04)
Prabu Ciungwanara berkata, “Tidak akan bodoh orang mau disuruh mengusir musuh, karena pada akhirnya dia akan dinobatkan menjadi apa yang menjadi miliknya. Kamu tidak merebut dari siapa-siapa karena tahta itu adalah pusakamu sendiri. Kamu sesungguhnya adalah gantung 1)-ku. Sigantung sekarang akan kunobatkan menjadi penguasa Pakuan Parahiyangan 2). Para kuwu sudah satu hati bahwa kamu lah yang akan memerintah, menduduki pemerintahan Pajajaran yang didoakan agar dalam menjalankan pemerintahan semoga kamu diberkahi oleh Yang Acinta Manik, ratu sajagat buwana semua ini”.
Penobatan itu disambut oleh getaran gempa bumi, yang menjadi saksi penobatan Prabu Siliwangi. Sang raja meraga sukma akadang sukma, para Dewata memayungi. Sudah sangat termashur dan tidak ada yang menandingi raja Pajajaran. Keluarganya banyak,  anaknya banyak, isterinya banyak, mereka tinggal mengisi negara Sunda. Sang raja terkenal serta telah menjadi pembicaraan akan kehebatannya yang melebihi sebagai seorang pejuang, tidak ada musuhnya di dunia ini yang mampu untuk menghalangi kehendaknya.

Para Pembantu Pemerintahan Prabu Siliwangi (Pupuh XLIV.05 – XLIV.08)
Para menak yang membantunya namanya bermacam-macam, antaranya: Gajah Muntang, Gajah Barong, Gajah Tandhing, Gajah Manggala, Gajah Siluman, Gajah Enggang, Gajah Puntang, dan Gajah Rucik. Juga banyak Tumenggungnya : Kalang Wirana, Kalang Badhag, Kalang Brama, Kalang Luhur, Kalang Eling, Kalang Lunana, Kalang Tonggo, Kalang Sari, Kalang Angkes, Kalang Siyu, dan Kalang  Rejang. Ka-demang-annya banyak sekali, memenuhi bumi. Demikian juga dengan Ngabehinya, mantri besar, mantri kecil sudah berada di mana-mana. Demikian juga halnya dengan isteri – isterinya.

Anak keturunan Prabu Siliwangi (Pupuh XLIV.09 – XLIV.10)
(Dalam bab ini dikisahkan anak keturunan Prabu Siliwangi dari 22 isterinya – menurut sumber lain sang prabu memiliki 151 isteri - Disini kami hanya menyalin isteri yang ke 21 dan 22 saja yang menurunkan keturunannya di Cirebon).
Adapun isterinya yang dari seberang bernama Nyi Sumbang Karancang. Dia berasal dari negara Singapura  diambil isteri oleh raja Pajajaran. Dari perkawinan ini dia memberikan tiga anak, satu laki-laki bernama Prabu Cakrabuwana, ditengah anak perempuan bernama Rara Santang  dan bungsunya anak laki-laki bernama Ki Raja Sangara. Ketiga anak tidak sejalan dengan keyakinan ayahandanya, mereka berkehendak agar ayahandanya masuk agama Islam. Itulah awalnya mereka dimusuhi oleh ayahandanya sehingga mereka kemudian diusir. Awalnya mereka tinggal di Kaputran, kemudian menyingkir pergi tanpa tujuan, hingga akhirnya mereka pergi menyeberang ke Mekah. Rara Santang diambil isteri oleh raja Mesir dan dia tinggal disana. Cakrabuwana pulang dan menetap di Carbon lalu menikah dengan anaknya Ki Kuwu Kancana Larang, yang kemudian mempunyai anak bernama Pangeran Carbon dan seorang anak perempuan bernama Nyi Pakungwati. Cakrabuwana dikenal dengan nama-nama lain seperti  Haji Abdul Iman, juga Arya Lumajang atau Pangeran Gagak Lumayung.
Cakrabuana membelot dari Pakuan dengan cara menghentikan pengiriman pajak terasinya.  Rara Santang setelah lama di Mesir itu kemudian mempunyai dua anak laki-laki yang bernama Syekh Hidayatullah dan Syekh Nurullah. Syekh Hidayatullah pulang ke Jawa dan tinggal di gunung Amparan  dan dipanggil Sunan Gunung Jati, dijaga oleh uwaknya Arya Lumajang. Sudah banyak yang masuk dan berguru agama Islam baik orang kecil maupun para bangsawannya, mengikuti Wali Jati yang memperoleh keramat.

Adapun anak Prabu Siliwangi dari anaknya Dampu Awang; Yang kaputrennya di Kandhanghaur, bernama "Balilayaran". Putri bungsu Siliwangi itu sejak masih kecil sangat dekat dengan sang Prabu Siliwangi, dia mengikuti kesana-kemari tidak pernah tertinggal.

Note:
1. Gantung Siwur, penarikan garis keturunan “Gantung Siwur”  pada penghitungan ke bawah: Anak,  Cucu, Buyut, Bao, Canggah, Wareng,Udheg-udheg, Gantung, Siwur.
 
2. Prasasti Batu Tulis mencatat: “ Wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebuguru dewataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sa(ng) sidamokta di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu ka(n)cana sa(ng) sidamokta ka nusalarang, ya siya nu nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siya pun ++ i saka, panca pandawa e(m)ban bumi ++”. Terjemahan: Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi prabu ratu suwangi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu membuat (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya dia lah (yang membuat semua itu.). Dibuat dalam tahun Saka lima pandawa pengasuh bumi (=1455 M).
3. Dampu Awang, seorang saudagar muslim dari Champa yang banyak dikisahkan dalam babad-babad Cirebon. Dampuawang berasal dari bahasa Sansakerta dang puhawang, artinya ‘nakhoda yang dihormati’. Julukan itu diberikan kepada orang yang mempunyai semangat besar menjaga, melindungi, dan memajukan maritim.
 
4. Dalam beberapa naskah ada perbedaan nama. Dalam Naskah Kuningan, anak Dampu Awang ini bernama Dewi Nyi Aci Putih yang kemudian dilamar Prabu Siliwangi. Dari perkawinan dengan sang raja, lahir seorang putri yang diberi nama Putri Aci Bedaya yang diperisteri raja Bagdad yang masih kerabat dari ayah dari Sunan Gunung Jati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar